Kaum muda Asia semakin menyadari dampak negatif algoritma media sosial terhadap kesehatan mental dan mempraktikkan Digital Detox untuk menjaga keseimbangan digital mereka. Digital Detox melibatkan pembatasan penggunaan perangkat, mematikan notifikasi, atau mengambil jeda penuh dari internet.
Kekhawatiran utama adalah cyberbullying dan fear of missing out (FOMO) yang diperkuat oleh media sosial, yang menyebabkan kecemasan dan stres. Digital Detox dicari sebagai bagian dari upaya mindfulness dan kembali ke interaksi sosial tatap muka yang lebih autentik.
Fenomena ini mendorong popularitas hobi offline seperti glamping mewah di pulau tropis atau kerajinan tangan, yang menawarkan pelarian tanpa layar.
Meskipun demikian, peran teknologi dalam pekerjaan dan pendidikan membuat detox total sulit dilakukan. Solusi yang lebih realistis adalah manajemen waktu digital yang cerdas dan menetapkan batas waktu penggunaan aplikasi tertentu.
Kaum muda Asia mempraktikkan Digital Detox untuk menjaga kesehatan digital, merespons dampak negatif algoritma media sosial dan FOMO. Solusi ini didukung oleh tren mindfulness dan hobi offline.

